Dua Tahun Revolusi Suzuki Ertiga

SUZUKI Ertiga dikenal sebagai penantang pertama dua pionir segmen low multipurpose vehicle (LMPV), Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Kini, Ertiga telah dua tahun melanglang buana menerobos ketatnya pasar LMPV yang disemuti semakin banyak pemain. “Dua tahun itu, jika dipersonifikasikan, seperti bayi yang ma sih dalam usia golden age,“ cetus Direktur Pemasaran dan Pengembangan Jaringan Diler Empat Roda PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Davy J Tuilan dalam perayaan ulang tahun Suzuki Ertiga, awal Mei, di Jakarta.

Ia mengklaim, sebagai `bayi’ yang baru saja diluncurkan pada 22 April 2012 silam, pencapaian penjualan Ertiga terhitung cukup signifikan.

Sekitar 110 r i b u unit Ertiga telah laku terjual sejak `kelahirannya’ hingga Maret tahun ini.
Davy mengakui menembus dominasi Avanza dan Xenia yang berkongsi tidaklah mudah. Namun, Davy mengaku Ertiga mampu memberikan inovasi dan stimulasi terhadap segmen yang merupakan `generasi awal mobil murah’ sebelum kehadiran LCGC tersebut.

“LMPV sebelumnya dikonotasikan sebagai kendaraan sederhana di fitur-fitur keamanan dan kenyamanannya.
Di awal-awal kami sempat berdebat apakah fitur se perti immobilizer akan bisa diapresiasi konsumen LMPV,“ ujar Davy.

Perjalanan Ertiga yang dimulai pada 2012 kemudian dilanjutkan dengan `revolusi’ melalui kehadiran varian-varian lain dalam relatif singkat. Varian double blower di tipe GL an GX hadir pada Januari 2013, dengan tipe GA single blower sebagai opsi paling terjangkau.

Pada 17 Mei di tahun yang sama, muncullah varian transmisi otomatis untuk GL dan GX. Ertiga Elegant, yang menjadi varian termewah, kemudian dilepaskan empat bulan kemudian. Terakhir, varian Ertiga Sporty diperkenalkan pada Februari 2014.

Ertiga Sporty, menurut Davy, saat ini telah terjual sekitar 300 unit.
“Satu indikasi yang sangat kuat di pasar LMPV ialah adanya kebutuhan konsumen untuk kendaraan yang makin kaya fitur. Konsumen Indonesia sudah lebih cerdas. Dulu mungkin yang penting kelihatan bagus dari luar. Tapi, sekarang mereka lebih melihat keseluruhan aspek fitur-fitur yang ada, terutama lebih fokus pada fitur keselamatan,“ lanjut Davy.

Kompetitor menjamur Persaingan kemudian semakin ketat dengan kedatangan LMPV-LMPV lain semisal Chevrolet Spin serta Honda Mobilio.

Transaksi komersial yang digapai Ertiga pun, jika ditilik dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sempat menurun pada Februari (3.216 unit) dan Maret (3.475) jika dibandingkan dengan bulan pertama 2014 (5.378).

Hal itu diakui Davy. “Volume Maret dan juga April agak sedikit turun. Bukan karena kompetitor, melainkan pasar yang mengecil (karena LCGC),“ klaim Davy.

Davy lalu mengulang target memperbesar pangsa pasar LMPV dari 17% pada 2013 menjadi 20% di tahun ini. Ia menyinggung pula rencana penggubahan produkproduk Ertiga lain ke depannya.

“Tentu saja akan ada inisiatif produk Ertiga di bulanbulan ke depan, tapi kami belum bisa buka,“ tutup Davy.
Revolusi Ertiga belum selesai. (Xan/S-2) – Media Indonesia, 22/05/2014, halaman 22

This entry was posted in Otomotif and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *