Riau, Kutub Ekonomi Baru di Pesisir Timur Sumatra

Pemerintah Riau juga siap menyelaraskan program pembangunan di daerah dengan berbagai rencana besar pemerintahan Jokowi JK. SUMBANGSIH Bumi Lancang Kuning bagi bangsa Indonesia tidaklah disangsikan lagi. Jauh di dalam perut bumi, terkandung miliaran barel minyak mentah yang selama berpuluh tahun menjadi salah satu penopang devisa utama Indonesia.

Di atas permukaannya terhampar bak permadani hijau berjuta hektare tanaman kelapa sawit yang perasannya menghasilkan minyak crude palm oil (CPO). Tanahnya yang subur juga menumbuhkan hutan tanaman industri sebagai penopang sumber industri kertas dan bubur kertas Indonesia.

Riau sudah ditakdirkan memiliki berbagai kekayaan alam yang luar biasa besar. Minyak bumi, perkebunan, pertambangan, kehutanan, perikanan merupakan berkah alam yang seharusnya bisa memberikan keuntungan lebih besar untuk kesejahteraan masyarakat Riau.

Riau juga memiliki keuntungan letak geografisnya yang dekat dengan jiran Malaysia dan Singapura, serta berada di jalur perairan paling sibuk di dunia yakni Selat Malaka. Berbagai limpahan berkah ini menjadikan Riau sebagai tempat yang dimintai untuk berinvestasi.

Hingga pertengahan 2014 ini, nilai investasi yang masuk ke Riau mencapai Rp10,8 triliun atau sudah 60% dari target yang dipatok sebesar Rp18 triliun. Nilai investasi Riau ini akan semakin bertambah karena puncak investasi di Riau diperkirakan akan terjadi pada kuartal keempat tahun ini.

Walaupun menjadi surga investasi, Riau masih butuh sokongan sangat besar dari pemerintah pusat terutama dalam membenahi infrastruktur, ketersediaan air bersih dan listrik. Sejumlah elemen dasar ini menjadi prasyarat mutlak agar investor dengan senang hati menanamkan modalnya di negeri Tuanku Tambusai ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman mengungkapkan anggaran dari Pemerintah Provinsi Riau belumlah cukup untuk membenahi berbagai persoalan tadi. Padahal, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dengan berkembangnya sektor perkebunan, kehutanan dan industri semakin meningkatkan distribusi barang dan jasa.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang begitu tinggi tadi belum bisa diikuti dengan peningkatan infrastruktur. “Pembangunan infrastruktur seperti jalan menjadi tertinggal di belakang,“ ungkapnya.

Infrastruktur jalan nasional yang ada di Riau saat ini kondisinya sangat buruk.Kondisi ini bila tidak diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya akan menghambat.

Saat ini, setidaknya ada sekitar 4.000 mobil truk bertonase besar dari industri crude palm oil (CPO) dan pulp paper yang lalu lalang di jalanan. Truk tersebut rata bertonase paling tidak 40 ton-45 ton. Ini tidak lagi cocok dengan kondisi jalan nasional di Riau yang hanya mampu menahan beban truk bertonase 8 ton-20 ton.

“Kita tentu tidak bisa melarang truk bertonase besar tersebut untuk tidak lewat jalan nasional. Namun begitulah kondisi hambatan utama Riau meningkatkan nilai tambah dari produk utamanya seperti CPO. Laju pertumbuhan investasi jauh sekali ke depan meninggalkan investasi pemerintah,” ungkapnya.

Sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 36 Tahun 2000 tentang Visi Riau yakni Terwujudnya Provinsi Riau sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam Lingkungan Masyarakat yang Agamais, Sejahtera Lahir dan Batin di Asia Tenggara pada 2020.Sekilas mimpi ini terlalu tinggi. Namun, Bung Karno pernah berkata, “Gantungkan cita citamu setinggi langit.“ Kalimat itu menyirat kan kita untuk punya cita-cita tinggi dan berupaya dengan tindakan yang rasional dan terukur agar semua mimpi itu bisa terwujud.

Singapura, negara kecil dengan sumber daya alam yang minim saja bisa menjadi bangsa yang maju, modern dan kuat ekonominya. Riau dengan sumber daya alam yang berlimpah pastinya bisa hebat dan sejajar dengan Singapura.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Riau menaruh harapan besar kepada pemerintahan baru Joko Widodo-Jusuf Kalla yang akan dilantik pada 20 Oktober dalam mewujudkan mimpi besar ini.

Tidak hanya menaruh asa, Pemerintah Riau juga siap menyelaraskan program pembangunan di daerah dengan berbagai rencana besar pemerintahan Jokowi JK. Misalnya, program poros maritim yang merevitalisasi jalur laut terintegrasi sesuai dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan.

Hal ini pun, lanjut Andy Rachman, sesuai dengan rencana Pemerintah Provinsi Riau yang giat menjadikan kawasan pesisir Riau sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sumatra.

Riau, tambahnya, punya tiga pelabuhan utama yang menjadi kutub ekonomi baru.Pelabuhan tersebut, yakni Dumai, Buton, dan Kuala Enok. Ketiga pelabuhan ini butuh percepatan. Misalnya Pelabuhan Dumai yang saat ini sudah direct ke 96 negara di dunia. Pelabuhan kelas satu ini kondisinya memprihatinkan karena demorage atau antrean kapal bersandarnya sangat lama.

Jangan sampai poros maritim untuk esiensi distribusi barang dan jasa tadi menjadi tidak esien karena waktu antre bersandar guna bongkar barang di pelabuhannya terlalu lama. “Tidak ada jalan lain, pemerintah pusat harus membantu meningkatkan kualitas infrastruktur yang ada di Riau,“ ungkapnya.

Harapan ini bukan tanpa sebab apalagi dikaitkan de ngan pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 yang tentunya sudah di depan mata.Riau sebagai gerbang In donesia di wilayah pesisir timur Sumatra harus mampu bersaing dengan pesisir barat Selat Malaka, yakni negeri jiran Malaysia.

Tidak hanya peningkatan infrastruktur, Riau juga sudah berupaya menyiapkan diri menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sejak 2003, Riau menjadi promotor terbentuknya Indonesia Malaysia Thailand-Growth Triangle (IMT-GT). Hingga kini forum ekonomi regional tersebut juga melibatkan 10 provinsi di Sumatra yang bekerja sama dengan berbagai daerah di Malaysia dan Thailand.

Melalui IMT GT juga, dunia pendidikan kejuruan mendapat tempat untuk meningkatkan kualitas anak didiknya. Berbagai program dan terobosan ini lanjutnya sangat butuh dukungan dari pemerintah pusat. Dalam hal ini pemerintahan baru Jokowi-JK.

“Kami ucapkan tahniah kepada presiden dan wakil presiden baru Indonesia.Semoga Indonesia semakin hebat dan jaya,“ ungkapnya. (N-25) Sumber : Media Indonesia, 20/10/2014, Halaman : 9

This entry was posted in Bisnis and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *