Menikmati Rembiga dan Bulayak di Tanah Asalnya

Dua genre satai ini jadi kebanggaan warga Lombok. Tampilan dan rasanya menjadi bukti betapa kayanya khazanah kuliner negeri ini. Manis di awal, pedas di akhir, itulah kalimat yang pantas dilontarkan untuk satai rembiga. Istimewanya, semakin lama, rasa pedas makin mengemuka. Saya tiba di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, akhir pekan lalu. Selain alamnya yang menakjub kan, tradisi mengolah kekayaan alam di sini yang termasyhur tentu tak boleh dilewatkan.

Satai rembiga dan satai lembuak jadi pilihan utama saya. Satai khas rembiga banyak dijajakan di sekitar Kota Mataram, ibu kota provinsi ini. Namun, legendanya ada di satai rembiga Ibu Hj Sinasih di Jalan DR Wahidin, Rembiga, Selaparang. Rumah makan ini berdiri sejak 28 tahun lalu. Saat saya singgah ketika sore menjelang, nyaris semua porsi telah ludes.

Hanya ada satu porsi yang bisa dipesan. Merasa beruntung dan setengah tak sabar, saya duduk di tempat makan yang terletak di pinggir jalan itu. Rembiga, tanpa kehebohan bumbu Satu porsi satai berisi 10 tusuk pun tersaji. Pembedanya , satai rembiga disajikan kering, tanpa siraman bumbu kacang kental atau racikan kecap dan bawang merah seperti yang lazim ditemui pada sate bergaya Madura atau Tegal.

Butuh transportasi berupa rental mobil lombok atau promosi online bersama kami ?

Sesungguhnya, tanpa perlu siraman bumbu, rasa satai ini sudah nyaris sempurna. Bumbunya meresap benar. Manis di awal, pedas di akhir, itulah kalimat yang pantas dilontarkan untuk satai rembiga. Istimewanya, semakin lama, rasa pedas makin mengemuka. Rahasia sedap satai khas daerah Rembiga ini ada pada bumbu berona merah dan kental yang dioleskan saat satai dibakar. Sang pemilik, Ibu Hajjah Sinasih, 43, yang meracik langsung setiap porsi satai yang diolah di sini berujar bahwa bumbu merah inilah yang jadi penentu.

“Pertama-tama, daging sapi dipotong kecil-kecil. Sebelum ditusukkan ke tusuk satai, terlebih dahulu daging dibumbui dengan bersahaja, cukup bawang merah, bawang putih, terasi dan cabai. Kemudian, dibakar dengan arang batok kelapa. Saat di atas bara, daging diolesi terus dengan bumbu merah ini. Bumbu merah ini diracik dengan beragam bumbu.

Yang utama, cabai lombok dan terasi. Sehingga, rasanya bisa meresap saat dibakar. Banyak yang menjual satai rembiga, tapi bumbu di sini khas,“ ungkap Sinasih. Satai rembiga ini dibanderol Rp15 ribu per porsi. Kawannya, lontong atau aneka lauk yang juga khas Lombok, seperti pepes ikan teng giri, pepes teri serta baba lung atau pepes tulang iga.

Di sini, tersedia pula blondo atau sari minyak kelapa dan parutan kelapa yang dibungkus daun pisang bergaya pepes. Ini juga bintang di warung ini. Harganya Rp1.500 per buah.

“Sebelum buka usaha, saya bekerja di warung orang. Di sana, saya yang meracik bumbu satai. Saya lalu membuka usaha sendiri dan sekarang, tiap hari 100 kg daging sapi atau sekitar 10 ribu tusuk satai habis dijual, mulai pukul dua siang hingga sembilan malam,“ kata Sinasih.
Bulayak, daging hingga usus Selain satai rembiga, satai khas Desa Lembuak atau populer disebut satai bulayak juga jadi kebanggaan warga di sini.

Saya memutuskan untuk mencicipi satai ini langsung di daerah asalnya di Desa Lembuak, Narmada, Lombok Barat. Di sini, ada banyak yang menjual satai bulayak, gerobak satai milik Ba Ayat, 37, di pinggir Jalan Narmada Raya adalah salah satu yang tersohor.

Satai ini terdiri dari potongan beragam bagian sapi, ada daging has, usus, limpa, hati hingga jantung, yang dipotong-potong kecil dan tipis. Satai dibakar dengan bumbu khas seharga Rp15 ribu per porsi yang berisi 10 tusuk. Pembeda utama satai ini ialah bumbu siramannya yang sedap.

Satai disiram dengan bumbu kental kecokelatan. Sekilas, mirip bumbu kacang ala satai madura. “Bumbu siramannya khas, mirip seperti bumbu opor, dibuat dari santan, bawang putih, kemiri dan lainnya, dimasak hingga kental. Disajikan dengan irisan cabai. Resepnya diwariskan turun-temurun dari kakek dan ayah,“ jelas Ba Ayat.

Daya tarik satai ini juga ada pada bulayak yang dibungkus daun aren. Makanya satai khas Lembuak ini sering disebut satai bulayak. Selain di Narmada, satai jenis ini sering dijumpai di beragam daerah, salah satunya kawasan Lombom. Namun, yang paling mantap tentunya menikmatinya di daerah tempat tradisi kuliner ini bermula. (Sky/M-3) – Media Indonesia, 04/05/2014, halaman : 23

This entry was posted in Pariwisata and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *