Siak : Ikan Menghilang Hikayat Penombak Menguap

Ketika ikan di Siak tergusur oleh industri sawit, kayu, dan kertas, tradisi yang menyertakan kekayaan sungai pun turut sirna.

BUTIRAN embun pagi luruh perlahan dari ranting pohon rindang. Matahari belum muncul sempurna dari ufuk timur. Di selingkung taman di muka Istana Siak, Sri Inderapura, Kabupaten Siak, Riau, warga mulai beraktivitas.
Ada yang bergegas ke pasar untuk berdagang, sebagian mulai sibuk membersihkan pekarangan rumah. Sebuah pagi yang jauh dari hiruk-pikuk.

Di balik aktivitas itu, Siak sedang mempersolek wajahnya. Apalagi, tu kini sudah jadi destinasi sejarah dan budaya Melayu.

Banyak pemerhati sejarah, sejarawan, dan sastrawan berkunjung ke sana meninjau bekas peradaban raja-raja Siak tempo dulu. Di pagi itu, kapal-kapal pengangkut milik industri sawit, kayu, dan kertas hilir mudik melintasi Sungai Siak.

Sungai yang juga menghubungkan Siak dengan Pekanbaru itu berada tepat sekitar 200 meter dari pintu pagar istana yang kini telah jadi museum. Air sungai Siak, yang konon pada masa lalu jernih, kini sudah kecokelatan.
Rumah ikan “Ada yang hilang di Siak. Salah satunya, tradisi menombak ikan.

Mungkin saja punah,“ ujar Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak, Said Muzani, 48, dua pekan lalu.

Sebagai putra asli Siak, Said mengaku cemas tradisi menombak ikan menggunakan kayu pulai (ringan) yang pada era 80-an masih bisa ia lihat kini berangsur sirna.

“Bila di NTT ada tradisi menombak ikan paus, di sini juga ada tradisi menombak ikan tapah dan ikan juara. Salah satunya karena sungai tercemar limbah,“ papar Said. Tradisi terkait dengan kekayaan sungai yang juga hampir lenyap, kata Said, ialah menggun tang, mencari ikan dengan jaring bulat. “Mengguntang juga sudah mulai hilang dan jarang dilihat di sekitar Sri Inderapura. Tradisi mengguntang merupakan kegiatan nelayan mencari ikan dengan pelampung bermata kail. Kail yang disediakan akan dilempar ke tengah sungai. Bila dimakan ikan, akan lengket pada ikannya,“ kata Said.

Ada pula tradisi melanggai, menangkap ikan di malam hari dengan cara menyauk atau menimba di tengah sungai. Tradisi itu pun mulai ditinggalkan warga.

“Dulu, banyak penombak ikan di Sri Inderapura, tetapi sudah mulai hilang sehingga tinggal cerita saja,“ jelas Lukman, 69, warga setempat.

Sungai Siak pada masa lalu memang menjadi rumah bagi berbagai ikan air sungai, di antaranya ikan juara, tapah, dan udang. Bahkan, pada era 80-an, warga juga masih bisa menggunakannya untuk mandi dan mencuci. Namun, kini cemaran membuat sungai tak lagi akrab dengan keseharian mereka.

Tepung tawar Jika dirunut ke akarnya, Istana Siak tak lekat dengan tradisi men cari ikan. Mencari ikan biasanya hanya dilakukan hulu balang atau rakyat jelata.

Namun, karena hormatnya, warga yang sukses menangkap ikan akan menyerahkan sebagian hasil tangkapannya buat sang baginda.

Kerajaan Siak dirintis Sultan Abdul Jalil Rakhmad Syah pada 1723 dan berlangsung hingga Sultan Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin di 1946.

Di Siak, tradisi Melayu dipengaruhi Minangkabau, Batak, hingga Tiongkok.
Jika tradisi terkait dengan sungai sudah nyaris punah, penanda budaya Siak lainnya ada yang masih dijaga betul oleh masyarakat, salah satunya upacara adat tepung tawar. Upacara itu prosesi memberikan doa selamat dalam menempuh kehidupan serta kelimpahan rahmat dari Sang Khalik.

Di mata Al Azar, budayawan dari Lembaga Adat Melayu Riau, tradisi tersebut terawat karena terkait erat dengan lingkungan kerajaan.

“Kosmopolitan Siak di abad ke-19 dan 20 ini harus dipandang lewat pendekatan kultural,“ kata Al Azar. (M-3) – Media Indonesia, 01/06/2014, halaman 11

This entry was posted in Pariwisata, Peristiwa & Informasi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *