Lion Air Delay Disebabkan Kekurangan Ban Serap

Para penumpang yang menggunakan transportasi pesawat maskapai penerbangan Lion Air sangat kecewa disebabkan beberapa rute penerbangan mengalami keterlambatan (delay). Kekecewaaan tersebut dengan keterlambatan lebih dari 4 jam lamanya.
Tentu hal ini bisa membuat berantakan jadwal para penumpang yang mempunyai urusan di kota yang mereka tuju. Seperti yang diberitakan kompas.com, penerbangan maskapai Lion Air Kami 17 Oktober 2013, rute penerbangan Jakarta – Makassar, Jakarta – Padang, Jakarta – Batam serta Jakarta –Surabaya mengalami keterlambatan. Direktur Umum Lion Air menyampaikan permohonan maaf kepada para pengguna maskapai penerbangan yang terlambat untuk berangkat. “Kami memohon maaf kepada penumpang atas keterlambatan dan ketidaknyamanan tersebut,” kata Edward saat konferensi pers di Menara Lion Jakarta, Jumat (18/10/2013).

Delay penerbangan maskapai Lion Air ini disebabkan agar keselamatan penerbangan yang menjadi tujuan utama perusahaan. Sebab keterlambatan adalah adanya kekurangan ban pesawat yang digunakan. Oleh sebab itu Lion Air memutuskan tidak mengoperasikan pesawat yang seharusnya ganti ban bahkan menunda penerbangan hingga ban pesawat tersebut telah diganti.
Sangat disayangkan persediaan suku cadang berupa ban pesawat dapat membuat keterlambatan penerbangan maskapai Lion Air. Dan saat ini ban pesawat yang diimpor dari Hongkong dan Bangkok sedang tahap penyelesaian administrasi dan dokumentasi sebanyak 4 (empat) container dengan jumlah sekitar 800 unit ban. Untuk mengatasi dan memenuhi ketersediaan dan kebutuhan ban pesawat dan demi operasional penerbangan, pihaknya sudah mengimpor ban baru dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan kargo udara.

Maskapai penerbangan Lion Air memberikan kompensasi pembayaran atas keterlambatan dengan mentransfer ke rekening masing-masing penumpang yang terkendala penerbangan saat itu.
Tentunya hal ini menjadi sebuah kejadian yang dikemudian hari tidak terjadi lagi oleh pihak maskapai penerbangan manapun juga. Sebab hal ini dapat memberikan citra yang tidak baik kepada mereka. Dan semoga maskapai di Indonesia berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Indonesia.
Sebab transportasi udara sudah menjadi kebutuhan masyarakat saat ini, apalagi mereka yang mempunyai bisnis di beberapa kota. Sumber Kompas.com

Seperti berita yang bersumber dari ZamrudTV.com :
Untuk ke sekian kalinya, para penumpang Lion Air mengamuk. Kali ini terjadi di Bandara Soekarno, Hatta, Jumat(18/10), saat penumpang dengan tujuan Padang terlantar hingga 12 jam.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menyebutkan, keterlambatan penerbangan akibat stok ban di bandara Soekarno Hatta menipis. Akibatnya, pihak manajemen tidak berani menerbangkan pesawat yang tidak memiliki ban pengganti.

“Kami alami masalah, stok ban kami menipis. Kami memutuskan tidak terbangkan pesawat atau tunda hingga ban dari workshop dipasang,” kata Edawrd.

Menurut Edward, ada enam jadwal penerbangan yang mengalami keterlambatan pada Jumat itu. Pihak manajemen juga meng-grounded setidaknya sembilan pesawat sampai adanya pergantian ban.

Menipisnya stok ban terjadi akibat ban-ban rekondisi yang didatangkan Lion Air melalui jalur laut dari Bangkok dan Hongkong tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok.

Menurut Edward, ada aturan baru terkait impor barang bekas yang harus dilakukan dengan persyaratan tertentu.
“Ada ban di Tanjung Priok enam kontainer tidak bisa diproses ke luar. Ada proses dokumentasi menyangkut soal ban/impor ban yang rekondisi. Ban rekondisi tidak boleh masuk dianggap ban bekas, padahal prosesnya beda,” katanya yang diwartakan viva.co.id.

Note: Keterlambatan jadwal penerbangan ini juga pernah terjadi beberapa waktu yang lalu. Ketika pelanggan sewa mobil kami terlambat sampai di Pekanbaru. Sementara teman-temannya sudah sampai di Pekanbaru. Alhasil pelanggan kami yang menuju kota Air Molek terlambat dalam melaksanakan pekerjaannya, sebab sesampai di Pekanbaru sekitar siang, padahal jadwal keberangkatannya dijadwalkan mendarat di Pekanbaru pagi hari pukul 08:00 wib.

This entry was posted in Transportasi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *