Pembatasan Solar Susahkan Sopir

Pemerintah belum siap melakukan pembatasan. Kebijakan tersebut seperti dipaksakan. SEJUMLAH pengemudi angkutan umum mengeluhkan keputusan pemerintah atas pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Kebijakan itu dianggap memberatkan lantaran harga BBM tanpa subsidi dua kali lipat dari BBM subsidi.

Senentara itu, janji pemerintah untuk memberikan stiker kepada pengemudi angkutan umum agar mendapat harga BBM subsidi seperti biasa belum terlaksana. Akibatnya, sopir angkutan umum bingung menyikapi mahalnya harga BBM nonsubsidi yang memberatkan mereka. Kalaupun ada BBM subsidi, waktu penjualannya dibatasi.

Pemerintah melalui BPH Migas memerintahkan waktu penjualan solar bersubsidi di stasiun pengisian bahan bakar umum yang mencakup regional Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Bali dibatasi. Kebijakan yang membatasi waktu penjualan solar bersubsidi, yakni pukul 08.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB, efektif dimulai Senin (4/8). Saat menanggapi regulasi itu, Taufiq, 37, pengemudi mikrolet M11 jurusan MeruyaTanah Abang, mengaku masih bingung menyiasati perihal pembatasan waktu pengisian bahan bakar.

“Masih bingung juga dengan keputusan pemerintah. Kalau (pengisian solar) dibatasi begitu, kasihan sopir yang narik dari shift malam ke subuh. Mau isi di mana jika bahan bakarnya habis?“ ujar Taufiq saat ditemui Media Indonesia, Senin (4/8). Taufiq menjelaskan, jam operasional angkutan umum mikrolet seperti miliknya dibagi ke dalam dua shift. Pengemudi yang mendapatkan jatah mengemudi pada shift pagi yang dimulai pukul 04.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB tentu tidak akan mengalami kesulitan saat mengisi BBM.

Namun, pengemudi di shift malam, yakni pukul 16.00 WIB-04.00 WIB dipastikan akan menemui kesulitan jika stok bahan bakar menipis ketika beroperasi. “Bisa saja beli solar yang biasa, tapi kan harganya mahal, beda jauh dengan harga solar bersubsidi. Ujung-ujungnya, sopir nombok buat setoran,“ keluhnya. Adapun solar nonsubsidi dijual Rp12.800 per liter, jauh lebih mahal daripada harga solar bersubsidi yang hanya Rp 5.500 per liter. Sebagai masyarakat berekonomi rendah, Taufiq berharap pemerintah tidak menambah beban pengemudi angkutan umum dengan menaikkan harga solar. Menurutnya, sebaiknya kebijakan yang diambil ialah pembatasan penjualan solar bersubsidi saja.
Senada, Ramli Nuradim, 40, pengemudi bus Mayasari Bakti P7 jurusan Pulo Gadung-Grogol mengeluhkan hal serupa. Dengan nada pasrah, Ramli berujar tidak memiliki strategi atau siasat tertentu.

Apalagi pemerintah melarang pembelian bahan bakar dengan menggunakan wadah tertentu (misal, jeriken) Ia menegaskan, pembatasan waktu penjualan solar bersubsidi menimbulkan persoalan baru. “Lambat laun pengemudi akan memberontak untuk menaikkan tarif angkutan bagi penumpang,“ ujarnya.

Setop operasional Sementara itu, Ketua DPP Organda DKI Jakarta Safruhan meminta BPH Migas untuk meninjau kembali kebijakan penghentian penjualan solar subsidi di SPBU jalan tol dan Ja karta Pusat, serta pembatasan waktu pembelian solar subsidi di sejumlah wilayah di Indonesia. Pasalnya, langkah pemerintah untuk menekan suplai BBM bersubsidi kali ini malah berdampak besar pada sektor pelayanan masyarakat menengah ke bawah.

“Itu dasarnya BPH Migas ingin menakan suplai BBM bersubsidi, tapi kebijakan itu tidak tepat karena menyangkut pelayanan masyarakat, khususnya angkutan umum,“ jelas Safruhan. Hal itu disebabkan angkutan umum nantinya akan mencari alternatif SPBU lain di luar trayeknya dan berdam pak pada efisiensi waktu dan penghasilan harian pengusaha angkutan umum dan sopir angkutan umum tersebut.

Untuk itu, pihaknya berencana melakukan evaluasi terkait kebijakan pembatasan solar bersubsidi dan mengancam akan menyetop operasi angkutan umum di Jakarta jika pemerintah mengabaikan masukan dari pihaknya. “Kami akan evaluasi dalam satu minggu ini, kalau pemerintah tidak memperhatikan, kami akan setop operasional,“ tutup Safruhan. (Ver/Tes/AF/*/ J-2) Media Indonesia, 5 Agustus 2014, Halaman 7

This entry was posted in Transportasi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *